PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH

 

Nama : Rifa A’tul Mahmudah

NIM : 11901157

Laporan Bacaan Magang II .

 

PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH

            Dijelaskan bahwa  Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life (Daryanto: 2015:1), yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas teretentu pula dari suatu bangsa. Kemudian The American Herritage Dictionary dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala Bahasa indonesia mengartikan kebudayaan dari bahasa Sanksekerta (Ahmadi; 2004:56). Yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk : budi daya, yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut. Secara prinsipil kebudayaan itu adalah hasil usaha manusia, baik hasil berupa material maupun spiritual dan bahwa kebudayaan itu adalah milik dan warisan sosial, kebudayaan itu terbentuk dalam dan dengan interaksi sosial dan diwariskan kepada generasi mudanya dengan jalan enkulturasi atau pendidikan.

 

    A.            Budaya Sekolah

Dari yang saya baca bahwa Menurut Deal dan Peterson dalam Supardi (2015; 221) menyatakan: Budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yangdi praktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak,dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Sekolah sebagai sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta budaya sekolah. Budaya merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Budaya dapat dilihat sebagai perilaku, nilai-nilai, sikap hidup dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu suatu budaya secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kegenerasi berikutnya. Budaya sekolah adalah kualitas sekolah di kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah (Dikmneum: 2002:14). Lebih lanjut dikatakan bahwa budaya sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuh kembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktifitas siswa. Budaya sekolah dapat ditampilkan dalam bentuk hubungan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, berfikir rasional, motivasi belajar, kebiasaan memecahkan masalah secara rasional.

 

     B.            Unsur-unsur Budaya Sekolah

Ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan, maka Djemari Mardapi (2003) membagi unsur-unsur budaya sekolah : Kultur sekolah, nilai-nilai. Kultur sekolah terdiri atas: Pertama, Kultur Sekolah yang Positif. Kultur sekolah yang positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar. Kedua, Kultur Sekolah yang Negatif; Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misalnya dapat berupa: siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukan kerja sama dalam memecahkan masalah. Kultur Sekolah yang Netral, Yaitu kultur yang tidak terfokus pada satu sisi namun dapat memberikan kontribusipositif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain. Selain itu, menurut Supardi budaya sekolah juga mengandung unsur-unsur: nilai, system kepercayaan, norma dan cara berfikir anggota dalam organisasi, serta budaya ilmu.

 

    C.            Karakteristik Budaya Sekolah

Dijelaskan bahwa Budaya sekolah diharapkan dapat memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif dan profesional. Budaya sekolah yang sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah yang berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Oleh karena itu, budaya sekolah ini perlu dikembangkan. Budaya sekolah merupakan milik kolektif dan merupakan hasil perjalanan sejarah sekolah, produk dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius keberadaan aneka budaya sekolah dengan sifat yang ada: sehat-tidak sehat; kuat-lemah; positif-negatif; kacau-stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Nilai-niali dan keyakinan tidak akan hadir dalam waktu singkat. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk budaya sekolahSegenap warga sekolah perlu memiliki wawasan bahwa ada unsur kultur yang bersifat positif, negatif, netral. Dalam kaitannya dengan visi dan misi sekolah mengangkat persoalan mutu, moral, dan multikultural; sekolah harus mengenali aspek-aspek kultural yang cocok dan menguntungkan, aspek-aspek yang cenderung melemahkan dan merugikan, serta aspek-aspek lain yang cenderung netral dan tak terkait dengan visi dan misi sekolah.

 

    D.            Pengembangan Budaya Sekolah

Adapun Model pengembangan budaya yang di sekolah meliputi pengembangan nilai, pengembangan tataran teknis, pengembangan tataran sosial, pengembangangan budaya sekolah di kalangan siswa, dan evaluasi budaya sekolah. Pengembangan nilai-nilai di kalangan siswa meliputi: keimanan dan ketaqwaan, nilai kebersamaan, nilai saling menghargai, nilai tanggung jawab, keamanan, kebersihan, ketertiban dan keindahan, dan hubungan antar siswa dengan seluruh warga sekolah. Semangat siswa dalam menjalankan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan cukup tinggi dan baik. Terbukti dari semua program dan pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa peningkatan imtaq dapat berjalan dengan baik.

Nilai-nilai kebersamaan siswa cukup baik, terlihat adanya siswa senantiasa menerapkan hubungan Ukhuwah Islamiyah dalam melakukan interaksi, baik saat KBM berlangsung maupun di luar KBM adanya kegiatan sekolah, seperti bekerja sama dalam kegiatan kesiswaan dan saling membantu sesame siswa yang kesusahan. Nilai saling menghargai siswa cukup baik (Yusuf: 2008:130), hal ini terlihat dengan adanya adanya sikap saling menghargai antar siswa yang tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga tidak terdapat dikotomi antar siswa yang meimiliki latar belakang ekonomi atas maupun bawah. Nilai tanggung jawab siswa cukup baik yaitu siswa selalu siap melaksanakan tugas yang bersifat kurikuler, selalu siap melaksanakan tugas yang bersifat korikuler seperti memberikan doa setelah sholat jumaat, memberi kultum dan menjadi pembawa acara dan sebagainya.

Berkaitan dengan budaya sekolah yang berkembang medukung pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam, maka pihak sekolah di SMP mendukungnya dengan cara melibatkan seluruh guru dalam kegiatan keagamaan, mengharuskan guru untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan sebagai panitia program kegiatan keagamaan. Perayaan hari besat agama islam, pesantren kilat dan bazar serta santunan bagi yang tidak mampu.

Budaya sekolah yang berkembang juga mendukung tingkat keimanan dan ketaqwaan siswa melalui pesantren ramadhan, pesantren sabtu-ahad, infak mingguan, santunan fakir dan miskin dan yatim piatu, santunan beasiswa seklah binaan, penetapan budaya islam antar guru, karyawan dan siswa, setiap guru dalam proses pembelajaran materi dikaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan, selanjutnya pihak sekolah dalam menyikapi perkembangan budaya yang masuk kedalam sekolah melakukan penyaringan agar budaya yang bernuansa islam mendukung tingkat keimanan dan ketaqwaan siswa.

Budaya yang berkembang mendukung lahirnya rasa tanggung jawab, kebersamaan, saling menghargai, kesetiakawanan, kedisiplinan dan gemar membaca di kalangan siswa melalui program pembiayaan, pembentukan kelompok teman sebaya, penetapan jadwal kunjung ke perpustakaan dan pemberian penghargaan bagi siswa dan guru yang rajin serta aktif membaca. Semua guru mengharapkan peserta didik memiliki rasa tanggung jawab, menghargai, setiakawan, disiplin baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.selanjutnya setiap budaya ada sisi lemahnya, ada yang positif dan negative, akan tetapi pada prinsipnya budaya yang berkembang di sekolah harus mendukung bagi siswa.

 

     E.            Tujuan dan Manfaat Penngembangan Budaya Sekolah

 Tantangan besar yang di hadapi sekolah agar menjadi sekolah yang efektif adalah meningkatkan mutu penampilan dan mutu pelayanan. Umaedi (dalam Sumarsana, 1999) mengatakan bahwa citra sekolah efektif masa depan ditandai empat karakteristik dasar, yaitu kemandirian, mutu yang tinggi, ciri khas, dan tanggung jawab social. Oleh karena itu, kebutuhan untuk mengembangkan budaya mutu dalam sekolah memegang peranan penting dalam usaha mencapai tujuan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai hasil yang lebih tinggi dengan masukan yang relative sama. Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada.

Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah memiliki sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya didalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur, dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis.

Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif (Daryanto; 2015:12) perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku. Manfaaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya sekolah yang kuat, intim, kondusif, dan bertanggung jawab adalah:

 (1) Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. (2) Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. (3) Lebih terbuka dan transparan. (4) Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. (5) Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. (6) Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki. (7) Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah: (1) Meningkatkan kepuasan kerja, (2) Pergaulan lebih akrab, (3) Disiplin meningkat, (4) Pengawasan fungsional bisa lebih ringan, (5) Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif, (6) Belajar dan berprestasi terus, serta (7) Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.

 

 

SUMBER :  Eva Maryamah Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendiidkan Islam FTK IAIN SMH Banten / TARBAWI Volume 2. No. 02, Juli - Desember 2016 ISSN 2442-8809

Komentar